Anies dan Argo Parahyangan

Selasa, 24 Januari 2023 | 08:52 WIB

Oleh Yayat R Cipasang

Jurnalis dan Penulis Buku

Anies Rasyid Baswedan naik pesawat adalah biasa. Anies naik mobil pribadi apalagi tak ada yang istimewa. Tetapi Anies naik Kereta Api Argo Parahyangan baru penuh makna. Sekilas memang tak ada yang istimewa saat Calon Presiden 2024 dari Partai Nasdem ini ketika mengunggah pengalaman dan kesannya ketika naik Argo Parahyangan berbaur dengan penumpang lainnya selepas mengikuti Jalan Sehat di Stadion Si Jalak Harupat Kabupaten Bandung Barat, Minggu (22/1/2023).

 

Kesan dan pengalaman menarik itu ditulis dalam akun pribadinya. “Mengakhiri rangkaian kegiatan yang seru dan bermakna di Bandung, Jawa Barat. Kini kembali ke Jakarta dengan naik Argo Parahyangan, kereta yang penuh sejarah, kenangan dan terus menjadi pilihan bagi begitu banyak orang. Kereta ini telah membuat perjalanan jadi pengalaman. Semoga Argo Parahyangan yang menyenangkan ini tetap bisa kita naiki di tahun-tahun yang akan datang.”

Tulisan itu sangat biasa, siapapun bisa menuliskannya. Namun, karena posisi Anies sebagai ‘antitesa’ kebijakan penguasa tulisan yang biasa maknanya menjadi sangat dalam dan menohok.

Menurut analis politik Refly Harun, Anies adalah seorang good boy. Anies kalau mengkritik Pemerintah tidak secara frontal dan vulgar serta menghindari debat kusir. Anies mengkritik penguasa sangat halus dengan keterampilan narasinya.

Ini adalah keterampilan Anies yang jarang dimiliki oleh elite lainnya. Gaya mengkritik Anies ini sangat mengena bagi sasaran yang dikritik dan sangat susah dibantah atau dilawan apalagi bila pihak atau kelompok yang tersinggung tidak memiliki keterampilan yang sama.

Pesan yang disampaikan Anies itu sangat jelas yang dituju adalah Pemerintah khususnya Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut yang mewacanakan KA Argo Parahyangan bakal dihentikan operasionalnya agar penumpangnya beralih ke Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Sejumlah pengamat transportasi mengatakan kereta cepat dianggap tidak efisien karena kereta tersebut stasiun akhirnya berada di luar Kota Bandung. Sebaliknya Argo Parahyangan sampai di pusat kota sehingga tidak banyak keluar biaya untuk transportasi lanjutan. Dari segi waktu bolehlah lebih cepat tetapi biaya tambah menjadi bengkak.

Wacana Luhut sempat mengundang kontroversi. Banyak masyarakat yang menolak rencana penghentian operasional Argo Parahyangan yang dianggapnya penuh dengan kenangan. Bila Argo Parahyangan dihentikan banyak yang mengkhawatirkan jalur kereta api warisan kolonial ini akan terbengkalai. Jalur kereta tidak hanya sebagai jalan atau jalur tetapi juga bernilai sejarah.

Orang yang ke Bandung atau Jakarta sejatinya tidak mengejar kecepatan. Mereka umumnya ke Bandung atau ke Jakarta untuk wisata atau jalan-jalan. Dan, mereka tidak memerlukan kecepatan. Kalaupun bekerja, mereka adalah kelas menengah yang bisa bekerja pakai laptop atau smartphone. Justru mereka naik kereta Argo Parahyangan untuk menikmati keindahan alam Parahyangan.

Pemerintah harus tahu Argo Parahyangan tidak sekadar moda transportasi. Argo Parahyangan juga sumber mata pencaharian bagi fotografer dan juga youtuber. Sensasi Argo Parahyangan menjelang masuk terowongan dan melintas di sejumlah jembatan yang menghubungkan antarbukit sebuah tontonan yang sensasional dan menegangkan. Dan itu banyak ditonton otomatis mendatangkan cuan bagi youtuber. Apakah Pemerintah ingin mematikan mata pencaharian mereka juga. Terlalu!

Pesan yang diunggah Anies memberikan harapan bila nanti mantan Gubernur DKI Jakarta ini jadi Presiden, Argo Parahyangan tidak akan ditutup atau dihentikan operasionalnya. Masyarakat bebas memilih sendiri moda transportasi yang diinginkannya. Semoga.

Ya, Anies merasakan dan meyakini sendiri pendapat yang disampaikan pastor kelahiran Jerman MAW Brouwer, “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” 

Keindahan alam itu tidak mungkin dinikmati dengan kereta cepat.

 

 

Editor : Admin

Reporter : Admin

Close Ad