Catatan Bang Boy


Deklarasi yang (selalu) Tertunda

Bocorannya begini; deklarasi koalisi partai pendukung Capres Anies Baswedan akan dilaksanakan bulan Febuari 2023 ini. Tahun lalu bocorannya; bulan Januari. Boleh jadi nanti bulan Feburai bocorannya; bulan Maret. Sebuah deklrasi koalisi yang selalu tertunda karena alotnya diskusi di dalam parpol calon koalisinya. Lebih keras lagi mungkin; perdebatan tentang siapa pendamping sang Capres.

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani misalnya mengakui, tiga partai masing-masing memiliki kandidat pendamping Anies. Jika Demokrat ingin menyandingkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maka Nasdem mendorong Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Adapun PKS ingin Cawapres adalah eks Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan alias Aher.

Untuk mengatasi situasi tersebut, menurut Mardani, tim kecil dari tiga partai terus berkomunikasi untuk mencapai kesepakatan bersama. "Kami lagi cari formula yang tepat," kata Mardani. Dia menilai, perbedaan dalam penentuan pendamping Anies merupakan hal wajar. Mardani menegaskan, tiga partai koalisi perubahan tidak hanya memiliki misi maju mengusung Capres, melainkan juga memenangkan Pilpres 2024.

Tentu masing-masing parpol pengusung punya alasan, punya data tentang elektabilitas Cawapres yang diusulkannya. Repotnya kalau tak mau saling mengalah maka bisa terjadi jalan buntu dan ini tentu merugikan Capres yang perlu dukungan koalisi tersebut. Masing-masing parpol harus terus berdiskusi dengan kepala dingin dan melakukan kalkulasi-kalkulasi yang paling mendekati realitas agar tidak salah langkah dalam memasangkan Anies dengan Cawapresnya nanti.

Sebab posisi Cawapres tentu saja bukan cek kosong dan sekadar pemanis tetapi punya peran penting dalam mendulang suara. Salah meletak Cawapres maka berimbas pada tingkat keterpilihan Capres tersebut. Tentu ini perlu jadi pertimbangan bersama calon partai koalisi dengan membuang jauh-jauh ego parpol yang menginginkan harus dari parpolnya saja sang Cawapres tersebut sebagai syarat dukungan.

Tentu kita berharap tim kecil dari tiga partai melakukan kajian-kajian mendalam dengan fakta dan angka sebelum memutuskan apa dan siapa yang akan mendampingi Anies. Saya pernah mendengar opini seorang kawan jurnalis senior yang mungkin layak dipertimbangkan. Menurutnya kantong suara terbesar itu di Pulau Jawa.

Jadi meski luar Jawa kompak mendukung satu calon tetapi suara penentu itu adalah mayoritas suara di Pulau Jawa. Bila suara mayoritas Pulau Jawa bisa didapatkan maka si calon dipastikan sudah menang angka meski luar Jawa berbeda pilihan. Oleh karena itu kalkulasi suara ini tentu perlu diperhitungkan dengan cermat.

Siapapun Cawapres yang diusulkan hendaknya punya catatan seberapa banyak dia pernah mendulang suara di Pemilu sebelumnya terutama di Pulau Jawa, entah sebagai eksekutif atau legislatif. Hasil catatan itu dibandingkan kemudian yang terbanyaklah hendaknya dipasangkan dengan Capres. Ini data riil yang dapat dijadikan acuan. Sehingga dalam penetapan Cawapres tidak berdasarkan kata ‘pokok’ nya harus dari parpol kami.

Kita berharap proses penetapan cawapres hendaknya berjalan dengan baik dan siapapun yang dipilih menjadi Cawapres Anies itu sudah ditetapkan berdadarkan data, fakta elektabilitas sang kandidat dan bukan semata ego parpol. Semoga.***

Catatan Helfizon Assyafei


Close Ad